CONTRA NARASI DALAM KOMUNIKASI: Strategi Mengelola Opini Publik di Era Disinformasi

Rekonstruksiregulasiperan

Judul : CONTRA NARASI DALAM KOMUNIKASI: Strategi Mengelola Opini Publik di Era Disinformasi

Penulis : Irjen Pol. Gatot Repli Handoko, S.I.K., M.I.Kom

Penerbit : Media Luhur Sentosa

Spesifikasi: 14x20 cm, ii+127 hal, soft cover, bookpaper (b/w)

ISBN : ............

Terbit : April 2026

CONTRA NARASI DALAM KOMUNIKASI: Strategi Mengelola Opini Publik di Era Disinformasi

Transformasi pola komunikasi saat ini menunjukkan bahwa komunikasi modern tidak lagi dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi digital. Namun demikian, perkembangan tersebut juga membawa tantangan tersendiri bagi kualitas komunikasi publik. Kemudahan dalam memproduksi dan menyebarkan informasi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan literasi media yang memadai. Banyak pengguna media digital yang menerima informasi tanpa melalui proses verifikasi yang kritis. Akibatnya, berbagai bentuk informasi yang keliru, menyesatkan, atau bahkan sengaja dimanipulasi dapat dengan mudah memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam konteks ini, ruang digital menjadi arena yang sangat dinamis sekaligus rentan terhadap berbagai bentuk manipulasi informasi.

Perubahan pola komunikasi ini juga memengaruhi cara masyarakat membangun opini publik. Dalam era media konvensional, opini publik banyak dipengaruhi oleh agenda media arus utama. Media memiliki kekuatan untuk menentukan isu apa yang dianggap penting oleh masyarakat melalui proses agenda setting. Namun dalam era digital, pembentukan opini publik menjadi jauh lebih kompleks. Interaksi antara pengguna media sosial, influencer, komunitas digital, serta algoritma platform teknologi turut membentuk dinamika baru dalam pembentukan persepsi publik terhadap suatu isu.

Algoritma media sosial memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan informasi apa yang muncul dalam ruang digital. Platform digital seperti Facebook, Instagram, atau YouTube menggunakan sistem algoritma untuk menyesuaikan konten dengan preferensi pengguna. Sistem ini bekerja dengan menganalisis perilaku pengguna, seperti jenis konten yang sering dibaca, disukai, atau dibagikan. Meskipun mekanisme ini dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pengguna, dalam praktiknya algoritma juga dapat menciptakan fenomena filter bubble atau ruang informasi yang terbatas. Pengguna cenderung hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangan mereka sendiri, sehingga mempersempit perspektif dan memperkuat polarisasi opini di masyarakat.