DEBAT BERKEADABAN: Menguatkan Ilmu dan Adab Mujadalah dalam Dakwah

DEBAT BERKEADABAN: Menguatkan Ilmu dan Adab Mujadalah dalam Dakwah

Judul : DEBAT BERKEADABAN: Menguatkan Ilmu dan Adab Mujadalah dalam Dakwah

Penulis : Dr. Hasan Basri Tanjung, MA.

Penerbit : Media Luhur Sentosa

Spesifikasi : 14x21 cm, v+195 Hal, soft cover, bookpaper (b/w)

ISBN : 978-623-xxxxx-x-x

Terbit : 2024

DEBAT BERKEADABAN

Sejatinya, Islam membuka ruang bagi akal pikiran manusia untuk mencari dan menemukan solusi dari setiap persoalan. Bertebaran ayat-ayat Alquran yang merangsang untuk merenungi diri, fenomena alam dan sosial demi meraih kehidupan yang bermakna.

Ketika manusia berpikir rasional, logis dan kritis, maka akan terjadi dialektika intelektual yang dapat memberikan alternatif dalam memenuhi kebutuhan dan membangun peradaban. Ungkapan retorik firman Ilahi, afalaa yatafakkarun (apakah kalian tidak berpikir), afalaa yatadabbaruun (apakah kalian tidak merenung), afalaa ta’qiluun (apakah kalian tidak berakal) adalah apresiasi hal tersebut.

Ada sebuah surah yang mengisahkan tentang bantahan seorang istri sahabat kepada Nabi Muhammad SAW., sehingga dinamai al-Mujadalah. Menurut Prof. Buya Hamka dalam “Tafsir Al-Azhar”, surah ini terkadang dibaca al-Mujadilah artinya perempuan yang membantah. Tetapi, lebih sering dibaca al-Mujadalah yakni perdebatan, tukar pikiran atau diskusi.

Perdebatan (mujadalah) merupakan salah satu metode dakwah dalam menyiarkan Islam kepada masyakarat (mad’u) yang berpikir kritis dan ingin membantah kebenaran ajaran Islam, bahkan menggoyahkan keyakinan umat Islam. ”Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl [16]:125). Oleh karena itu, setiap Da’i perlu dibekali kemampuan debat dengan ilmu logika (mantiq) untuk menguatkan struktur berfikir yang benar, mendalam dan komprehensif.